www.AlvinAdam.com


Berita 24 Sulawesi Tengah

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Selama 17 Tahun Mencari Obat Epilepsi untuk Santi

Posted by On 08.43

Selama 17 Tahun Mencari Obat Epilepsi untuk Santi

  • PROKAL.co
    • PROKAL NEWS
    • PRO KALTIM
      • KALTIM POST
      • BALIKPAPAN POS
      • SAMARINDA POS
      • BONTANG POST
      • BERAU POST
    • PRO KALTARA
      • RADAR TARAKAN
      • BULUNGAN POST
      • KALTARA POS
    • PRO KALSEL
      • RADAR BANJARMASIN
    • PRO KALTENG
      • KALTENG POS
      • RADAR SAMPIT
    • PRO KALBAR
  • BalikpapanTV
  • SamarindaTV
  • KPFMBalikpapan
  • KPFMSamarinda
  • Indeks Berita
MANAGED BY: MINGGU
07 JANUARI RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINE R | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 06 Januari 2018 11:56 Selama 17 Tahun Mencari Obat Epilepsi untuk Santi

Keliling 34 Provinsi di Indonesia dengan Bersepeda demi Kesembuhan Anak

KELILING INDONES IA: Masrani (celana jeans biru) dan Santi (jilbab biru) foto bersama perwakilan komunitas sepeda Tarakan, Senin (1/1). Lisawan/Radar Tarakan

PROKAL.CO, Seorang ayah Masrani (48) mengajak anak bungsunya Santi (20) menjelajahi Indonesia. Bukan untuk berlibur atau traveling. Tetapi mereka berdua bertekad untuk bisa menemukan obat dari penyakit yang diderita si bungsu. Karena keterbatasan biaya, mereka terpaksa berkeliling di 34 provinsi dengan bersepeda.

LISAWAN YOSEPH LOBO

Sejak berusia dua tahun, Santi sudah diajak touring dengan bersepeda oleh ayahnya. Konon ibunya meninggal karena sakit saat Santi, berusia lima bulan. Sejak itu, Masrani menjadi ayah sekaligus ibu untuk kedua putriny a itu.

Anak sulungnya bernama Lia (22), sudah memiliki keluarga kecil. Sehingga Masrani fokus untuk pengobatan Santi saja. Sejak lahir, Santi menderita epilepsi atau yang lebih dikenal dengan penyakit ayan. Selama satu tahun lebih, Santi mendapatkan pengobatan medis namun harapan sembuh juga tak kunjung datang.

“Sudah ikut resep dokter tapi tidak ada perubahan,” tutur pria asli Banjarmasin ini.

Masrani tak berputus asa. Dia bertekad untuk bisa menemukan obat untuk anak bungsunya itu. Maka pada tahun 2000, dia memutuskan untuk melakukan perjalan bersama anaknya dengan bersepeda. Untuk bisa menemukan obat untuk Santi.

Sepeda berwarna biru ini merupakan peninggalan orang tua Masrani. Konon usianya sudah 31 tahun, tepatnya sejak 1986 silam. Ada yang unik dari sepedanya ini. Di bagian belakang tempat Santi duduk, ada bendera merah putih dan papan berukuran 10 x 15 centimeter (cm) yang dilengkapi dengan pancasila beserta foto Presiden Indonesia yang pertama .

Meski usia sepedanya sudah cukup tua, secara kasatmata masih terlihat bagus. Diakuinya, dia tak pernah mengganti fisik sepeda yang setia menemani mereka berdua itu. Berbeda dengan ban sepeda yang sudah tidak bisa terhitung lagi berapa kali mereka menggantinya. Dalam Desember ini saja sudah sebanyak 19 kali ganti ban. “Iya karena kami rawat jadi masih bagus kelihatannya,” ucap pria murah senyum ini.

Selama 17 tahun berkeliling Indonesia, sudah 33 provinsi yang dijelajahi. Untuk melengkapi provinsi di seluruh Indonesia, akhirnya di penghujung 2017 lalu, ia berhasil menginjakkan kakinya di Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai provinsi termuda di Indonesia. Maka genap lah 34 provinsi yang sudah ditelusuri untuk mencari pengobatan Santi.

“Jadi di mana pun kami melangkah, kami tetap sambil mencari pengobatan untuk anak. Alhamdulillah, selama 17 tahun ini sudah 34 provinsi yang kami bisa kunjungi,” katanya.

Pria asal Banjarmasin ini, sudah mengi njakkan kaki di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Medan, Aceh, Palu, Lampung, dan masih banyak lagi. Namun selama perjalanannya itu, Masrani belum menemukan obat untuk Santi. Tentu saja ada secuil harapan untuk mendapatkan kesembuhan di provinsi termuda ini. “Rasanya belum menyerah. Di mana pun ada orang pintar, mungkin bisa menolong kami,” ucapnya.

Diakui ayah dua anak ini, epilepsi ini dapat kambuh sewaktu-waktu. Tak jarang kerap kali kambuh di tengah perjalanan saat bersepeda. Sering kali Masrani dibantu orang lain yang melihatnya di jalan. Ia juga membacakan salawat sambil mengolesi minyak di tubuh Santi dengan minyak angin yang sering dibawanya.

Apapun yang dilalui Masrani untuk mendapatkan kesembuhan Santi, entah itu lewat darat maupun laut, sebagai bentuk perhatiannya kepada buah hatinya itu. Selama 17 tahun touring tentu membuat Santi merasa senang karena me lihat tempat baru dan keramahan masyarakat yang menyambut hangat kedatangannya.

Namun kepribadian Santi sedikit tak sabaran. Ternyata gadis kelahiran Pontianak ini cepat bosan.

“Biasanya kan kami menunggu pertemuan keluarga (komunitas) ibaratnya silaturahmi antar keluarga. Tapi dia maunya cepat-cepat berangkat lagi,” kata Masrani sambil tertawa.

Konon setiap ia hendak meninggalkan suatu daerah, ia diarahkan untuk menuju ke daerah lainnya oleh rekan-rekan komunitas sepeda. Semisal, selepas di Tarakan selama dua hari, ia diarahkan ke Nunukan. Melalui komunitas sepeda di Tarakan, menginformasikan ke rekan-rekan di Nunukan untuk menyambut kedatangan Masrani dan Santi.

Begitu seterusnya dilakukan oleh komunitas sepeda di seluruh Indonesia. Sehingga ketika tiba disuatu daerah, tak lagi kesulitan mencari tempat tinggal. Terkadang, dalam perjalanan panjang melalui darat, ketika waktu menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat, ia berhenti dan mencari tempat peris tirahatan. Ia juga tidak pernah memaksakan perjalanan.

Biasanya ia menumpang tidur di warung-warung bahkan di musala. Selalu saja ia bertemu dengan orang baik yang memberikan makan dan minum saat beristirahat.

“Kita sesuaikan dengan medan juga. Dari Berau menembus Tanjung Selor 8 jam lamanya. Nah itu tanjakan masih bisa kami jangkau, tapi kalau dari Berau ke Samarinda itu tanjakannya lebih tinggi,” ucapnya sambil tertawa.

Setelah tiba di Tarakan, Masrani baru bersepeda satu kali putaran dari dermaga Pelabuhan Tengakayu II menuju mes Pertamina di daerah Ladang, Kecamatan Tarakan Tengah menuju rumah salah seorang rekannya.

Saat ditemui, Santi sedikit pemalu, ia lebih banyak diam. Tetapi seketika berbicara, ia nampak bersemangat mengikuti ayahnya berkeliling dengan sepeda. Diakuinya, ia senang berpindah dari satu daerah ke daerah lain demi mendapatkan kesembuhan. “Iya senang,” jawabnya dengan singkat. (***/nri)

loading...
BERITA TERKAIT
  • Sempat Cerita Kangen dengan Nenek
  • Ahmad Sering Menanyakan Tentang Surga ke Keluarga
  • Berawal dari Coret-Coret Kertas, Kini Banjir Orderan
  • Gagal Jadi Pilot, Tak Pupuskan Rasa Cinta Dunia Dirgantara
  • Video Tiga Mahasiswi Tarakan Viral di Instagram
  • Terinspirasi Kesuksesan sang Ayah yang Mengutamakan Pendidikan
  • Yansen TP: Saya Terkenang Orang Tua Sendiri
  • Kehilangan Lengan di Usia Remaja, Tetap Bisa Hidupi Sepuluh Anaknya
  • Omzet Pelaku UMKM Meningkat dari Hari Biasanya
  • Omzet Pelaku UMKM Meningkat dari Hari Biasanya

BACA JUGA

Sabtu, 06 Januari 2018 12:03

Serang KPU, Polisi Tembakan Gas Air Mata

TARAKAN â€" Kemarin pagi (5/1) matahari begitu terik menyengat kepala hingga kulit demonstran dan… Sabtu, 06 Januari 2018 12 :01

Punya SK, Silakan Perlihatkan

TARAKAN â€" Tiga hari menuju pendaftaran Pilwali Tarakan yang sudah dijadwalkan KPU Tarakan, ternyata… Sabtu, 06 Januari 2018 11:59

CT Scan Puluhan Miliar Belum Diperbaiki

NUNUKAN â€" Teknologi computerized tomography atau biasa disebut CT scan di Rumah Sa kit Umum Daerah… Sabtu, 06 Januari 2018 11:54

Pasien Positif Sudah Dipulangkan

TARAKAN â€" Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan sejak 19 Desember,… Sabtu, 06 Januari 2018 11:53

Telusuri Keberadaan Kawan Reza di Kaltara

TANJUNG SELOR â€" Dugaan pengiriman orang ke Filipina oleh Reza Nur Jamil (26) yang beberapa waktu… Sabtu, 06 Januari 2018 11:49

Bocah Meninggal Setelah Terjatuh ke Laut

TARAKAN - Sabri (4) ditemukan tidak bernyawa usai terjatuh dan terbawa gelombang di bawah kolong… Sabtu, 06 Januari 2018 11:43

Gaji Honorer Terancam Tak Dibayar

NUNUKAN - Rencana Pemerintah Kabupate n (Pemkab) Nunukan memberlakukan peraturan kepala daerah (perkada)… Sabtu, 06 Januari 2018 11:40

Revisi Kegiatan Pengamanan

TARAKAN â€" Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Michael Hence Royke Supit terpaksa harus merevisi ulang… Sabtu, 06 Januari 2018 11:31

Jalan Berlubang Dibenahi Bertahap

TARAKAN â€" Tidak banyak yang dikeluhkan warga RT 20, Kelurahan Mamburungan, Tarakan Timur ini.… Sabtu, 06 Januari 2018 11:19

2017, Inflasi 2,77 Persen

TARAKAN â€" Setelah terjadi deflasi selama 5 bulan berturut-turut, mulai Juli 2017 hingga November… BREAKING NEWS!!! Satu Unit Speedboat Tujuan Tarakan Terbalik Hanya Satu Armada Miliki Pintu Darurat BREAKING NEWS!!! Dua Bocah Dikabarkan Tenggelam di Pulau Kacia Tegaskan Dana RT Rp 260 Juta Hari Ketiga Pencarian, Fikri Akhirnya Ditemukan Berkomitmen Sebagai Kabupaten Konservasi Tidak Bayar, Dilarang Masuk Hari Kedua, Tim Gabungan SAR Upayakan Pencarian Fikri 31 Januari, Serah Kunci Studio XXI Niat Berangkat Kerja, Dwi ‘Diseruduk’ Angkot
  • Serang KPU, Polisi Tembakan Gas Air Mata
  • Punya SK, Silakan Perlihatkan
  • CT Scan Puluhan Miliar Belum Diperbaiki
  • Selama 17 Tahun Mencari Obat Epilepsi untuk Santi
  • Pasien Positif Sudah Dipulangkan
  • Telusuri Keberadaan Kawan Reza di Kaltara
  • Bocah Meninggal Setelah Terjatuh ke Laut
  • Gaji Honorer Terancam Tak Dibayar
  • Revisi Kegiatan Pengamanan
  • Jalan Berlubang Dibenahi Bertahap
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN SELATAN
  • KALIMANTAN UTARA
  • KALIMANTAN BARAT
  • TENTANG KAMI
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
Find Us
Copyright &copy 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .Sumber: Google News | Berita 24 Sulteng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »